Minggu, 20 Januari 2019
Tahun 2019 bertepatan dengan pesta demokrasi Indonesia membuat semua kalangan concern dan peduli terhadap geliat politik dalam negeri, dari pengamat politik, praktisi politik sampai dengan masyarakat umum sangat peduli dengan kondisi politik. Properti ditahun politik mengalami fase fluktuatif dengan landasan bahwa kebijakan politik mempengaruhi perkembangan pasar properti ditanah air, tahun politik menjadi histori bahwa bidang properti akan mengalami stagnansi. Seiring berjalannya waktu kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kondisi pemilihan eksekutif dan legislatif meningkat, dan berbarengan dengan hal itu juga akan mempengaruhi ekonomi dalam negeri, apalagi saat ini ekonomi global yang menurun sehingga Indonesia mengalami dampak domino, selain itu isu isu negatif yang diangkat oleh para politikus untuk mencapai kepentingannya tidak secara langsung akan berdampak kepada lingkungan sosial ekonomi masyarakat yang selanjutnya akan membuat nilai beli masyarakat perlahan menurun.
Kondisi properti Indonesia saat ini cenderung stabil, tapi tidak disemua wilayah ditanahh air mengalami keseimbangan. Pertanyaan sederhana yang muncul apakah properti di Kalimantan Barat menurun?
Di Kalimantan Barat saat ini sudah berkembang pesat untuk properti tipe besar, dengan adanya beberapa penggembang Properti besar di tanah air membangun proyek propertinya seperti ; Ciputra, Green synthesis, dan penggembang lainnya. Kemajuan yang sangat baik untuk sekelas penggembang besar dan berpengalaman Ciputra membangung produk propertinya di Kalimantan Barat, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa untuk tipe besar di Kalimantan Barat saat ini mengalami fase stagnansi, banyak bangunan properti mewah yang mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya, Turunnya daya beli masyarakat Kalimantan Barat dikarenakan banyak faktor baik itu dari bidang perkebunan, industri dll.
Berbanding terbalik pasar properti dengan segmentasi menengah kebawah, khususnya program FLPP / Rumah subsidi di Kalimantan Barat mengalami kenaikan sehingga mengalami kenaikan permintaan dan daya beli masyarakat sangat tinggi untuk tipe 36. Kondisi ekonomi yang lesu bukan menjadi geliat properti juga melesu, para penggembang seharusnya mampu membaca pasar properti di Kalimantan Barat agar tidak mengalami stagnansi bahkan failed project agar menjaga keseimbangan cash flow perusahaan.
Lesunya kondisi ekonomi di tahun politik idealnya tidak mempengaruhi pasar properti di Kalimantan seandainya para penggembang mampu membaca peluang dengan baik, berdasarkan pada pengalaman tim kita banyak proyek tipe menengah bawah mengalami failed atau stagnansi di kondisi ekonomi yang stabil. beberapa faktor berdasarkan pengamatan kita, salah satunya adalah para penggembang belom cukup mampu membaca kondisi properti dengan baik sehingga menyebabkan cashflow perusahaan tidak seimbang yang tentunya akan berujung pada ketidakmampuan untuk melanjutkan pembangunan properti yang sedang dijalankan.
selain itu penggembang lambat untuk belajar hal baru, tidak dapat kita pungkiri perkembangan teknologi juga menjadi faktor sehingga membuat penggembang mengalami stagnansi.
dengan demikian penggembang harus memiliki konsep modern tidak hanya dari segi pekerjaan teknis tapi juga dituntut untuk menguasai pekerjaan non teknis yang berhubungan dengan teknologi.
PROPERTIVACTION
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.




0 Comments:
Posting Komentar