Virus Corona / Covid-19 masuk ke Indonesia per 1 maret 2020 dan sampai saat tulisan ini dibuat masih dalam kondisi Karantina skala kecil. Penyebaran covid1-19 sangat masif diseluruh dunia dan sampai detik ini masih belum ada anti-virus untuk covid-19, penulis berharap semoga secepat antivirus ditemukan dan kondisi global dan nasional pulih kembali.
menarik untuk dibahas kondisi properti disaat pandemic covid-19 saat ini, karena dampaknya yang luar biasa bagi seluruh negara di dunia baik dari sektor formal maupun non-formal. Ekonomi global terjun bebas, dan nilai tukar rupiah bahkan terendah sepanjang sejarah di negeri ini. Kondisi ekonomi nasional turun merosot bahkan banyak perusahaan yang sudah merumahkan dan bahkan sampai mem-PHK karyawannya, karena biaya operasional membengkak supply demand stagnan dan semua sektor bisnis mati suri. Kondisi ini sangat parah tentunya, dibidang properti sudah banyak perusahaan yang menghentikan produksi mereka tentunya berimbas kepada pengurangan karyawan dan tenaga kasar sehingga akan menambah deretan panjang kesulitan ekonomi dikalangan bawah.
Properti di kondisi pandemik sangat memperhatinkan bahkan tidak akan bisa take off karena para investor menahan dan mengamankan modal mereka bahkan dari mereka banyak sekali yang menarik dana segar mereka sehingga membuat kondisi semankin komplicated karena tidak ada orang mau menggambil resiko begitu besar bila investasi di tengah pandemik global covid-19.

paling menarik adalah properti menenggah kebawah khususnya tipe 36 atau dikenal dengan dengan sebutan Rumah Subsidi, program 1 juta rumah pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai salah satu program pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia untuk memiliki rumah tinggal yang layak.
dari awal tahun 2020 angin segar terhadap rumah subsidi sampai detik masih menjadi cerita panjang diantara catatan kelam program ini karena sampai tulisan ini dibuat kondisi Rumah Subsidi Program pemerintah ini masih belum menjadi program yang ideal karena setiap tahunnya masih saja mengalami masalah serius bagi pelaku usahanya dan pemerintah. contoh sederhananya di tahun 2019 pemerintah belum cukup bijak untuk menyeimbangkan antara kebutuhan riil dengan anggaran yang disiapkan sehingga pertengahan tahun 2019 properti untuk kalangan MBR sudah mengalami stagnansi. semua pihak, developer, konsumen, dan perbankan ditahun 2020 properti untuk MBR akan take off baik tapi kenyataannya masih mengalami stagnansi munkin lebih buruk kondisinya dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah melalu LPPDPP mencoba untuk mengeluarkan program aplikasi SIKUMBANG dan SIKASEP dengan output mempermudah untuk diakses dan mempercepat hasil kerja, tapi kenyataannya hal ini seperti program aplikasi kelinci percobaan yang belum seluruhnya tersinkronisasi dan terintegrasi dengan baik tapi sudah diterapkan 100% sehingga banyak sekali kendala ketika menjalankan program ini. kondisi program yang 100% berjalan baik ditambah lagi dengan kondisi virus corona di awal maret 2020 yang sangat memukul ekonomi nasional sampai terjatuh munkin lebih tepat sampai sekarat dan tidak sadarkan diri hingga saat ini.
Harapan besar semua orang tentunya agar semua masalah ini terselesaikan agar dunia bisnis formal dan informal pulih kembali.
dan Penulis berharap pemerintah mengintegrasikan program dengan baik, serta anggaran untuk MBR untuk tahun berikutnya lebih baik dan mengganalisa lebih dalam untuk kebutuhan dan kecukupan anggaran.
semoga kondisi saat ini menjadi pelajaran berharga untuk semua pihak sehingga mampu mencapai tujuan yang telah di targetkan.
Salam Penulis
Propertivaction
#stayhome
#workformhome
#indonesiabisa
#propertibisa
0 Comments:
Posting Komentar